Minggu, 19 Desember 2010

Manajemen Qalbu

Takabur Pangkal Kehinaan Maha Suci Allah Pemilik segala keagungan dan kebesaran. Hanya Dia yang layak bangga dan mendapat segala puji karena Dia-lah satu-satunya pencipta segala kelebihan atas setiap makhluk-Nya. Sahabat, sungguh dungu orang yang takabur dan sombong. Tertipu mentah-mentah oleh pikiran bodohnya. Dia sangka keangkuhan dan pengakuan ketinggian dirinya akan mengangkat derajat kemuliaannya. Padahal jelas tidak ada satu pun riwayat di pelosok manapun, kecuali mengangggap hina dan rendah orang yang gemar membangga-banggakan dan melebih-lebihkan dirinya kepada orang lain. Memang lengkap kerugian orang takabur, selain di dunia ini makhluk akan merasa muak para malaikat pun bisa jadi akan sangat geram. Dia pun akan menjadi mangsa siksa kubur dan kobaran api jahannam kelak. Mengapa Allah demikian murka terhadap orang yang takabur, sampai-sampai Rasulullah SAW sendiri mengancam,”Tidak akan masuk syurga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walaupun sebesar atom.” Karena manusia angkuh dan sombong itu adalah makhluk yang sangat tidak tahu diri dan tidak tahu malu, serta lancang, mengaku-ngaku sesuatu yang bukan miliknya. Imam Al Ghazali mengibaratkan ada seorang hamba sahaya di sebuah kerajaan, tiba-tiba dia naik ke singgasana raja. Dia duduk dengan penuh kesombongan, lalu dipakainya jubah kebesaran sang Raja, lengkap dengan mahkota, pedang, dan segala perlengkapan kebesaran lainnya. Semua ini dia lakukan tanpa ijin sama sekali. Karenanya, sudah bisa kita tebak betapa geramnya para punggawa atau siapapun yang menyaksikannya. Dan kita pun sudah bisa menduga kemurkaan sang Raja. Nah, kurang lebih begitulah kemalangan yang akan dialami oleh manusia-manusia takabur. Dalam hal ini Allah Azza wa Jalla berfirman, yang artinya,”Dikatakan (kepada mereka), ‘Masukilah pintu-pintu neraka jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya.’ Maka, neraka jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.” [Q.S. Az Zumar (39) : 72] “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” [Q.S. Al Araaf (7) : 36] Penyakit takabur memang benar-benar seperti bau busuk yang tidak dapat ditutup-tutupi dan disembunyikan. Orang yang mengidap penyakit ini demikian mudah dilihat oleh mata telanjang orang awam sekalipun dan dapat dirasakan oleh hati siapapun. Mulai dari ujung rambut, lirikan mata, dengusan nafas, senyum sinis, tutur kata, jumlah kata, nada suara, bahkan senandungnya pun benar-benar menunjukkan keangkuhannya. Begitupun cara berjalan, duduk, menerima tamu, berpakaian, serta segala gerak-gerik dimanapun berada, bahkan sampai ujung kaki, seluruhnya menjadi gambaran jelas bagi pribadi buruknya. Ciri yang umum dan lebih jelas lagi digambarkan oleh Allah SWT melalui firman-Nya, yang artinya,”(Bukan demikian), sebenarnya telah datang kebenaran-Ku kepadamu, lalu kamu mendustakannya dan menyombongkan diri. Dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir.”[Q.S. Az Zumar (39) : 59]. Rasulullah SAW pun bersabda,”Kesombongan ialah orang yang mendustakan kebenaran dan menganggap remeh/melecehkan orang lain.” (H.R. Muslim) Siapapun yang berat menerima kebenaran Al Qur’an dan As Sunnah, apalagi yang mendustakannya, jelas dia termsuk ahli takabur yang dijamin binasa dalam keadaan hina dina jika sampai akhir hayat tidak bertaubat. Juga termasuk ke dalam golongan ini orang-orang yang hanya mau benar sendiri, seakan-akan dia sudah menguasai Al Qur’an dan Hadist secara sempurna seperti Rasul. Mereka kurang paham bahwa Islam itu diciptakan oleh Allah sejak Nabi Adam a.s. hingga kiamat kelak selalu cocok untuk rentang waktu yang begitu panjang, dengan segala situasi ekonomi, politik, maupun sosial yang berbeda-beda sesuai dengan jamannya, yang dapat memenuhi setiap naluri dan bakat manusia untuk terangkat menjadi ahli syurga. Karenanya, bagaimana mungkin Islam yang begitu dahsyat dan luas dapat ditampung di kepala seseorang atau sekelompok orang yang notabene bukan nabi? Justru dengan adanya keragaman pendapat, akan terlihat kebesaran dan kehebatan Islam. Sedangkan ketakaburan dapat mempersempit wawasan tentang Islam. Dan tentu sikap seperti itu akan menjadi benalu bagi umat. Sifat takabur bersumber dari rasa diri memiliki kelebihan, lalu timbul bangga diri, rindu dan gemar dipuji. Kemudian menganggap orang lain tidak seperti dirinya, lebih remeh dan lebih rendah daripadanya, yang kesemuanya ini diwujudkan dalam gerak-geriknya. Dan penyakit busuk hati ini akan meruyak dalam segala lapisan mata, tanpa pandang bulu, termasuk para ahli agama, ahli ibadah, dll. Tentu saja orang yang paling sering menjadi bulan-bulanan virus takabur ini adalah mereka yang dititipi beberapa kelebihan oleh Allah, baik berupa keahlian, prestasi, harta, pangkat, keturunan, ilmu, kedudukan, kebagusan dan kekuatan tubuh, pengikut, dan sebagainya. Lantas, karena lemah sikap mental dan keimanannya, maka dia anggap kelebihan itu miliknya sendiri, hasil perjuangan dan karyanya sendiri, sehingga layak bangga dan sombong. Padahal sekiranya Allah menghendaki mereka terlahir sebagai kambing, misalnya, tentu tidak akan pernah mereka miliki segala kelebihan tersebut. Atau, kalaulah Allah menghendaki mereka terlahir dengan otak dkurangi 3 cc saja, niscaya mereka tidak akan dapat berbuat apapun. Bahkan, jika Dia takdirkan mereka terlahir di sebuah suku di pedalaman belantara yang tidak mengenal peradaban, maka bisa jadi saat-saat sekarang ini mereka tengah mengejar babi hutan untuk santapannya. Memang, orang yang takabur adalah orang yang patut dikasihani oleh kita semua. Tiada yang dapat dia peroleh dari kehidupan ini, selain kesengsaraan dan kehinaan. Tiada yang dapat dikerjakannya, selain mempertontonkan kebodohannya sendiri. Lengkap sudah, dunia akhirat rugi total! Akankah kita pun berlaku dungu seperti itu? Na’udzu billaahi min dzaalik! Wallohu’alam bishshowab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar