Minggu, 19 Desember 2010

Nama Sang Bayi


Nama seorang anak terhadap keluarganya kadang mirip seperti plang nama pada sebuah toko. Di situlah citra bisa ternilai. Mulai dari pemilihan nama, gaya tulisan, warna dan jenis plang, serta penempatannya. Jangan berharap konsumen akan tertarik masuk ke toko jika tulisan plangnya asal-asalan.
Jangan anggap remeh arti sebuah nama. Terlebih jika nama itu diperuntukkan buat sang buah hati. Karena dari nama anaklah, citra sebuah keluarga bisa ternilai.
Sayangnya, tidak semua orang tua paham itu. Jadilah bayi-bayi yang punya asal nama. Tanpa arti, tanpa hikmah. Hal itulah yang kini kerap dipikirkan Pak Yogi.
Bapak yang baru saja dapat anugerah kelahiran bayi laki-laki ini masih dibingungkan dengan pilihan nama. Ia sedang berpikir keras untuk menentukan nama bayinya. "Nama anak harus punya nilai," tekad Pak Yogi begitu kuat. Sekuat kritik buat ayahnya yang telah memberinya nama 'Yogi'.
Ketika Pak Yogi paham bagaimana Islam mengajarkan soal nama, ia sempat kecewa. Masalahnya, nama 'Yogi' sulit dicarikan arti. Apalagi, nilai yang bisa diambil pelajaran. Dan lebih kecewa lagi ketika Pak Yogi bertanya ke ayahnya soal pemilihan nama itu. "Ayah juga nggak tahu artinya!" ucap ayah Pak Yogi suatu kali. Ketika didesak kenapa ayahnya memilih nama itu, jawaban sang ayah sederhana saja. "Soalnya, waktu itu ayah suka sama film kartun. Judulnya Yogi and Bubu!"
Astaghfirullah! Pak Yogi sangat sangat kecewa. Kadang ia malu sama teman pengajiannya. Tapi, apa mau dibilang. Nama sudah terlanjur melekat. Repot kalau diubah. Karena mesti mengubah akte kelahiran, ijazah SD, SMP, SMU, dan S satu.
Cara mudah mengubah nama tanpa mesti mengubah dokumen keluarga, ya dengan mengubah nama panggilan. Pak Yogi berharap, dengan nama anaknya kelak, ia bisa mendompleng. Ia bisa menyebut dirinya dengan Abu titik-titik. Artinya, bapak dari nama bayi laki-lakinya itu. Kalau nama sang bayi Ahmad. Maka, nama panggilan Pak Yogi menjadi Abu Ahmad. Wow, keren!
Tapi, ia masih belum sreg dengan pilihan nama buat anaknya. Yang jelas, tidak mungkin Pak Yogi menamai anaknya dengan Abu Bakar. Karena nama panggilan buat dirinya akan dobel di Abu: Abu Abu Bakar. Wah, jadi nggak pas. Pak Yogi terus berpikir. Tapi, belum juga ketemu.
Pak Yogi pernah bertanya ke isterinya. Tapi, isterinya tidak memberi satu nama pun. Cuma ngasih saran, agar nama bayinya tidak kepanjangan. Repot mesti dipanggil apa. Kalau disebut semua, sulit dihafal. Kalau disingkat, nanti malah kurang bagus.
Saran isterinya itu, menjadi pertimbangan baru buat Pak Yogi. "Betul juga, ya!" ucapnya dalam hati. Ia pernah dengar pengalaman teman pengajiannya. Sang teman pernah dikasih saran oleh seseorang untuk menamai anaknya dengan nama yang begitu bagus: shibghotullah! Artinya, celupan atau bentukan dari Allah. Tapi, teman Pak Yogi bingung sendiri. Ia kerepotan memanggil sang anak. Kalau dipanggil secara utuh, selain susah juga kepanjangan. Kalau mau disingkat, motongnya di mana.
Kadang, ketika anak mulai belajar bicara, kerap menyebut namanya dengan caranya sendiri. Nah, kalau namanya kepanjangan dan sulit disingkat, anak juga ikut kerepotan. Hal itu pernah dialami tetangganya. Nama sang anak sebenarnya bagus: Khairuddin. Artinya, kebaikan dari agama. Tapi, sang anak sendiri yang akhirnya menyingkat menjadi Udin. Hingga dewasa, anak itu tetap dipanggil Udin.
Dari sekian pengalaman itu, Pak Yogi akhirnya menemukan satu nama. Panggilannya tidak sulit. Tidak juga terlalu panjang. Bahkan, sangat singkat. Namanya, Sa'id. Artinya yang berbahagia. Dari segi sejarah, nama Said mengingatkan Pak Yogi dengan seorang pahlawan Islam: Said bin Zubair.
Selain itu, ada satu hal yang membuat hati Pak Yogi berbunga-bunga. Tak lama lagi, teman-teman Pak Yogi akan memanggil dirinya dengan panggilan baru: Abu Said. "Wow, nama yang keren!" ucap Pak Yogi ke isterinya. Dan, isteri Pak Yogi pun setuju.
Ketika berkunjung ke orang tuanya, Pak Yogi menyertakan isteri dan sang bayi. Selain minta doa, sebenarnya Pak Yogi juga punya maksud lain. Ia ingin ngasih pelajaran buat ayahnya yang asal ngasih nama. Agar, ayahnya sadar bahwa nama anak itu harus punya arti dan pelajaran.
"Siapa namanya, Yog?" tanya ayah Pak Yogi sambil menoleh ke sang bayi. Dengan bangga Pak Yogi mengatakan, "Sa'id, Yah! Artinya yang berbahagia. Bagus kan, Yah!"
Ayah Pak Yogi mengangguk-angguk pelan. "Luar biasa, Yog! Kamu memang hebat pilih nama. Hebat!" ucap ayah Pak Yogi.
Mendapati reaksi itu, Pak Yogi jadi bingung sendiri. Apakah secepat itu ayahnya langsung tersadar soal nilai sebuah nama. Atau, apa nama Said punya arti tersendiri buat ayahnya yang ia yakin tidak paham dengan bahasa Arab dan nama-nama tokoh Islam.
”Maksud, ayah?” tanya Pak Yogi menghilangkan rasa penasarannya.
"Begini, Yog. Dengan nama itu, aku bisa memanggil cucuku dengan inisial bagus: SBY! Wow, SBY! Artinya, Said bin Yogi!" lanjut ayah Pak Yogi bangga. (muhammadnuh@eramuslim.com)
 

Tauhid

MENGENAL ILMU TAUHIID
Apakah ilmu tauhid itu? Ilmu tauhid adalah ilmu yang membahas pengokohan keyakinan-keyakinan agama Islam dengan dalil-dalil naqli maupun aqli yang pasti kebenarannya sehingga dapat menghilangkan semua keraguan, ilmu yang menyingkap kebatilan orang-orang kafir, kerancuan dan kedustaan mereka. Dengan ilmu tauhid ini, jiwa kita akan kokoh, dan hati pun akan tenang dengan iman. Dinamakan ilmu tauhid karena pembahasan terpenting di dalamnya adalah tentang tauhidullah (mengesakan Allah). Allah swt. berfirman:
أَفَمَن يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ الأَلْبَابِ
“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar, sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” (Ar-Ra’d: 19)
Bidang Pembahasan Ilmu Tauhid
Apa saja yang dibahas? Ilmu tauhid membahas enam hal, yaitu:
1. Iman kepada Allah, tauhid kepada-Nya, dan ikhlash beribadah hanya untuk-Nya tanpa sekutu apapun bentuknya.
2. Iman kepada rasul-rasul Allah para pembawa petunjuk ilahi, mengetahui sifat-sifat yang wajib dan pasti ada pada mereka seperti jujur dan amanah, mengetahui sifat-sifat yang mustahil ada pada mereka seperti dusta dan khianat, mengetahui mu’jizat dan bukti-bukti kerasulan mereka, khususnya mu’jizat dan bukti-bukti kerasulan Nabi Muhammad saw.
3. Iman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada para nabi dan rasul sebagai petunjuk bagi hamba-hamba-Nya sepanjang sejarah manusia yang panjang.
4. Iman kepada malaikat, tugas-tugas yang mereka laksanakan, dan hubungan mereka dengan manusia di dunia dan akhirat.
5. Iman kepada hari akhir, apa saja yang dipersiapkan Allah sebagai balasan bagi orang-orang mukmin (surga) maupun orang-orang kafir (neraka).
6. Iman kepada takdir Allah yang Maha Bijaksana yang mengatur dengan takdir-Nya semua yang ada di alam semesta ini.
   
Allah swt berfirman:
“آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ
“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya.” (Al-Baqarah: 285)
Rasulullah saw. ditanya tentang iman, beliau menjawab,
أنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ.
“Iman adalah engkau membenarkan dan meyakini Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan taqdir baik maupun buruk.” (HR. Muslim).
Kedudukan Ilmu Tauhid di Antara Semua Ilmu
Kemuliaan suatu ilmu tergantung pada kemulian tema yang dibahasnya. Ilmu kedokteran lebih mulia dari teknik perkayuan karena teknik perkayuan membahas seluk beluk kayu sedangkan kedokteran membahas tubuh manusia. Begitu pula dengan ilmu tauhid, ini ilmu paling mulia karena objek pembahasannya adalah sesuatu yang paling mulia. Adakah yang lebih agung selain Pencipta alam semesta ini? Adakah manusia yang lebih suci daripada para rasul? Adakah yang lebih penting bagi manusia selain mengenal Rabb dan Penciptanya, mengenal tujuan keberadaannya di dunia, untuk apa ia diciptakan, dan bagaimana nasibnya setelah ia mati?
Apalagi ilmu tauhid adalah sumber semua ilmu-ilmu keislaman, sekaligus yang terpenting dan paling utama.
Karena itu, hukum mempelajari ilmu tauhid adalah fardhu ‘ain bagi setiap muslim dan muslimah sampai ia betul-betul memiliki keyakinan dan kepuasan hati serta akal bahwa ia berada di atas agama yang benar. Sedangkan mempelajari lebih dari itu hukumnya fardhu kifayah, artinya jika telah ada yang mengetahui, yang lain tidak berdosa. Allah swt. berfirman,
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah.” (Muhammad: 19)
Al-Quran adalah Kitab Tauhid Terbesar
Sesungguhnya pembahasan utama Al-Quran adalah tauhid. Kita tidak akan menemukan satu halaman pun yang tidak mengandung ajakan untuk beriman kepada Allah, rasul-Nya, atau hari akhir, malaikat, kitab-kitab yang diturunkan Allah, atau taqdir yang diberlakukan bagi alam semesta ini. Bahkan dapat dikatakan bahwa hampir seluruh ayat Al-Quran yang diturunkan sebelum hijrah (ayat-ayat Makkiyyah) berisi tauhid dan yang terkait dengan tauhid.
Karena itu tak heran masalah tauhid menjadi perhatian kaum muslimin sejak dulu, sebagaimana masalah ini menjadi perhatian Al-Quran. Bahkan, tema tauhid adalah tema utama dakwah mereka. Umat Islam sejak dahulu berdakwah mengajak orang kepada agama Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Mereka mendakwahkan bukti-bukti kebenaran akidah Islam agar manusia mau beriman kepada akidah yang lurus ini.
Bagi seorang muslim, akidah adalah segala-galanya. Tatkala umat Islam mengabaikan akidah mereka yang benar -yang harus mereka pelajari melalui ilmu tauhid yang didasari oleh bukti-bukti dan dalil yang kuat– mulailah kelemahan masuk ke dalam keyakinan sebagian besar kaum muslimin. Kelemahan akidah akan berakibat pada amal dan produktivitas mereka. Dengan semakin luasnya kerusakan itu, maka orang-orang yang memusuhi Islam akan mudah mengalahkan mereka. Menjajah negeri mereka dan menghinakan mereka di negeri mereka sendiri.
Sejarah membuktikan bahwa umat Islam generasi awal sangat memperhatikan tauhid sehingga mereka mulia dan memimpin dunia. Sejarah juga mengajarkan kepada kita, ketika umat Islam mengabaikannnya akidah, mereka menjadi lemah. Kelemahan perilaku dan amal umat Islam telah memberi kesempatan orang-orang kafir untuk menjajah negeri dan tanah air umat Islam.

Ada Apa Dengan Nikah

Oleh : NN


Nikah. Untuk satu kata ini, banyak pandangan sekaligus komentar yang berkaitan dengannya. Bahkan sehari-hari pun, sedikit atau banyak, tentu pembicaraan kita akan bersinggungan dengan hal yang satu ini. Tak terlalu banyak beda, apakah di majelisnya para lelaki, pun di majelisnya wanita. Sedikit diantara komentar yang bisa kita dengar dari suara-suara di sekitar, diantaranya ada yang agak sinis, yang lain merasa keberatan, menyepelekan, atau cuek-cuek saja.

Mereka yang menyepelekan nikah, bilang "Apa tidak ada alternatif yang lain selain nikah ?", atau "Apa untungnya nikah?".
Bagi yang merasa berat pun berkomentar "Kalau sudah nikah, kita akan terikat alias tidak bebas", semakna dengan itu "Nikah ! Jelasnya bikin repot, apalagi kalau sudah punya anak".
Yang lumayan banyak `penggemarnya` adalah yang mengatakan "Saya pingin meniti karier terlebih dahulu, nikah bagi saya itu gampang kok".
Terakhir, para orang tua pun turut memberi nasihat untuk anak-anaknya "Kamu nggak usah buru-buru menikah, cari duit dulu yang banyak".

Ironisnya bersamaan dengan banyak orang yang `enggan` nikah, ternyata angka perzinaan atau `kecelakaan" semakin meninggi! Itu beberapa pandangan orang tentang pernikahan. Tentu saja tidak semua orang berpandangan seperti itu. Sebagai seorang muslim tentu kita akan berupaya menimbang segalanya sesuai dengan kaca mata islam. Apa yang dikatakan baik oleh syariat kita, pastinya baik bagi kita. Sebaliknya, bila islam bilang sesuatu itu jelek pasti jelek bagi kita. Karena pembuat syariat, yaitu Allah adalah yang menciptakan kita, yang tentu saja lebih tahu mana yang baik dan mana yang buruk bagi kita.
Persoalan yang mungkin muncul di tengah masyarakat kita sehingga timbul berbagai komentar seperti di atas, tak lepas dari kesalahpahaman atau ketidaktahuan seseorang tentang tujuan nikah itu sendiri.

Nikah di dalam pandangan islam, memiliki kedudukan yang begitu agung. Ia bahkan merupakan sunnah (ajaran) para nabi dan rasul, seperti firman Allah :
"dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan" (QS Ar-ra`d : 38)

Sedikit memberikan gambaran kepada kita, nikah di dalam ajaran islam memiliki beberapa tujuan yang mulia, diantaranya :
Nikah dimaksudkan untuk menjaga keturunan, mempertahankan kelangsungan generasi manusia. Tak hanya untuk memperbanyak generasi saja, namun tujuan dari adanya kelangsungan generasi tersebut adalah tetap tegaknya generasi yang akan membela syariat Allah, meninggikan dienul islam , memakmurkan alam dan memperbaiki bumi.
Memelihara kehormatan diri, menghindarkan diri dari hal-hal yang diharamkan, sekaligus menjaga kesucian diri.
Mewujudkan maksud pernikahan yang lain, seperti menciptakann ketenangan, ketenteraman. Kita bisa menyaksikan begitu harmoninya perpaduan antara kekuatan laki-laki dan kelembutan seorang wanita yang diikat dengan tali pernikahan, sungguh merupakan perpaduan yang begitu sempurna.
Pernikahan pun menjadi sebab kayanya seseorang, dan terangkatnya kemiskinannya. Nikah juga mengangkat wanita dan pria dari cengkeraman fitnah kepada kehidupan yang hakiki dan suci (terjaga). Diperoleh pula kesempurnaan pemenuhan kebutuhan biologis dengan jalan yang disyariatkan oleh Allah. Sebuah pernikahan, mewujudkan kesempurnaan kedua belah pihak dengan kekhususannya. Tumbuh dari sebuah pernikahan adanya sebuah ikatan yang dibangun di atas perasaan cinta dan kasih sayang.

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir" (QS Ar Ruum : 21)

Itulah beberapa tujuan mulia yang dikehendaki oleh Islam. Tentu saja tak keluar dari tujuan utama kehidupan yaitu beribadah kepada Allah.

Manajemen Qalbu

Takabur Pangkal Kehinaan Maha Suci Allah Pemilik segala keagungan dan kebesaran. Hanya Dia yang layak bangga dan mendapat segala puji karena Dia-lah satu-satunya pencipta segala kelebihan atas setiap makhluk-Nya. Sahabat, sungguh dungu orang yang takabur dan sombong. Tertipu mentah-mentah oleh pikiran bodohnya. Dia sangka keangkuhan dan pengakuan ketinggian dirinya akan mengangkat derajat kemuliaannya. Padahal jelas tidak ada satu pun riwayat di pelosok manapun, kecuali mengangggap hina dan rendah orang yang gemar membangga-banggakan dan melebih-lebihkan dirinya kepada orang lain. Memang lengkap kerugian orang takabur, selain di dunia ini makhluk akan merasa muak para malaikat pun bisa jadi akan sangat geram. Dia pun akan menjadi mangsa siksa kubur dan kobaran api jahannam kelak. Mengapa Allah demikian murka terhadap orang yang takabur, sampai-sampai Rasulullah SAW sendiri mengancam,”Tidak akan masuk syurga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walaupun sebesar atom.” Karena manusia angkuh dan sombong itu adalah makhluk yang sangat tidak tahu diri dan tidak tahu malu, serta lancang, mengaku-ngaku sesuatu yang bukan miliknya. Imam Al Ghazali mengibaratkan ada seorang hamba sahaya di sebuah kerajaan, tiba-tiba dia naik ke singgasana raja. Dia duduk dengan penuh kesombongan, lalu dipakainya jubah kebesaran sang Raja, lengkap dengan mahkota, pedang, dan segala perlengkapan kebesaran lainnya. Semua ini dia lakukan tanpa ijin sama sekali. Karenanya, sudah bisa kita tebak betapa geramnya para punggawa atau siapapun yang menyaksikannya. Dan kita pun sudah bisa menduga kemurkaan sang Raja. Nah, kurang lebih begitulah kemalangan yang akan dialami oleh manusia-manusia takabur. Dalam hal ini Allah Azza wa Jalla berfirman, yang artinya,”Dikatakan (kepada mereka), ‘Masukilah pintu-pintu neraka jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya.’ Maka, neraka jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.” [Q.S. Az Zumar (39) : 72] “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” [Q.S. Al Araaf (7) : 36] Penyakit takabur memang benar-benar seperti bau busuk yang tidak dapat ditutup-tutupi dan disembunyikan. Orang yang mengidap penyakit ini demikian mudah dilihat oleh mata telanjang orang awam sekalipun dan dapat dirasakan oleh hati siapapun. Mulai dari ujung rambut, lirikan mata, dengusan nafas, senyum sinis, tutur kata, jumlah kata, nada suara, bahkan senandungnya pun benar-benar menunjukkan keangkuhannya. Begitupun cara berjalan, duduk, menerima tamu, berpakaian, serta segala gerak-gerik dimanapun berada, bahkan sampai ujung kaki, seluruhnya menjadi gambaran jelas bagi pribadi buruknya. Ciri yang umum dan lebih jelas lagi digambarkan oleh Allah SWT melalui firman-Nya, yang artinya,”(Bukan demikian), sebenarnya telah datang kebenaran-Ku kepadamu, lalu kamu mendustakannya dan menyombongkan diri. Dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir.”[Q.S. Az Zumar (39) : 59]. Rasulullah SAW pun bersabda,”Kesombongan ialah orang yang mendustakan kebenaran dan menganggap remeh/melecehkan orang lain.” (H.R. Muslim) Siapapun yang berat menerima kebenaran Al Qur’an dan As Sunnah, apalagi yang mendustakannya, jelas dia termsuk ahli takabur yang dijamin binasa dalam keadaan hina dina jika sampai akhir hayat tidak bertaubat. Juga termasuk ke dalam golongan ini orang-orang yang hanya mau benar sendiri, seakan-akan dia sudah menguasai Al Qur’an dan Hadist secara sempurna seperti Rasul. Mereka kurang paham bahwa Islam itu diciptakan oleh Allah sejak Nabi Adam a.s. hingga kiamat kelak selalu cocok untuk rentang waktu yang begitu panjang, dengan segala situasi ekonomi, politik, maupun sosial yang berbeda-beda sesuai dengan jamannya, yang dapat memenuhi setiap naluri dan bakat manusia untuk terangkat menjadi ahli syurga. Karenanya, bagaimana mungkin Islam yang begitu dahsyat dan luas dapat ditampung di kepala seseorang atau sekelompok orang yang notabene bukan nabi? Justru dengan adanya keragaman pendapat, akan terlihat kebesaran dan kehebatan Islam. Sedangkan ketakaburan dapat mempersempit wawasan tentang Islam. Dan tentu sikap seperti itu akan menjadi benalu bagi umat. Sifat takabur bersumber dari rasa diri memiliki kelebihan, lalu timbul bangga diri, rindu dan gemar dipuji. Kemudian menganggap orang lain tidak seperti dirinya, lebih remeh dan lebih rendah daripadanya, yang kesemuanya ini diwujudkan dalam gerak-geriknya. Dan penyakit busuk hati ini akan meruyak dalam segala lapisan mata, tanpa pandang bulu, termasuk para ahli agama, ahli ibadah, dll. Tentu saja orang yang paling sering menjadi bulan-bulanan virus takabur ini adalah mereka yang dititipi beberapa kelebihan oleh Allah, baik berupa keahlian, prestasi, harta, pangkat, keturunan, ilmu, kedudukan, kebagusan dan kekuatan tubuh, pengikut, dan sebagainya. Lantas, karena lemah sikap mental dan keimanannya, maka dia anggap kelebihan itu miliknya sendiri, hasil perjuangan dan karyanya sendiri, sehingga layak bangga dan sombong. Padahal sekiranya Allah menghendaki mereka terlahir sebagai kambing, misalnya, tentu tidak akan pernah mereka miliki segala kelebihan tersebut. Atau, kalaulah Allah menghendaki mereka terlahir dengan otak dkurangi 3 cc saja, niscaya mereka tidak akan dapat berbuat apapun. Bahkan, jika Dia takdirkan mereka terlahir di sebuah suku di pedalaman belantara yang tidak mengenal peradaban, maka bisa jadi saat-saat sekarang ini mereka tengah mengejar babi hutan untuk santapannya. Memang, orang yang takabur adalah orang yang patut dikasihani oleh kita semua. Tiada yang dapat dia peroleh dari kehidupan ini, selain kesengsaraan dan kehinaan. Tiada yang dapat dikerjakannya, selain mempertontonkan kebodohannya sendiri. Lengkap sudah, dunia akhirat rugi total! Akankah kita pun berlaku dungu seperti itu? Na’udzu billaahi min dzaalik! Wallohu’alam bishshowab.

Kutipan khutbah Arafah KH. Abdullah Gymnastiar

Saudaraku�Barang siapa yang ingin mendapatkan karunia besar dari ALLAH sebagai ahli syukur maka memuliakan orang tua adalah bersyukur. Hari demi hari yang tersisa dari orang tua kita adalah harusnya kita yang berada di barisan yang paling depan yang selalau memohon kepada ALLAH agar orang tua kita bisa diselamatkan. Mengapa kita sering perhitungan, sering kikir dengan orang tua kita. Benar orang tua kita jauh dari kesempurnaan tetapi orang tua lah yang menjadi jalan kita ada di dunia ini. Seorang ahli syukur pasti dia sangat berbakti, sangat berusaha agar orang tua nya selamat, bahagia dunia akhirat. Saudara ku sekalian orang yang durhaka kepada orang tua merupakan orang yang kufur nikmat. Kufur nikmat pasti akan selalu di rundung musibah. Rizki orang yang bersyukur kepada Allah tidak akan pernah kekurangan. Allah tahu kebutuhan kita lebih tahu dari pada kita sendiri tetapi, lihat apa yang kita lakukan dengan rizki yang Allah beri. Kita lebih banyak menjadikan rezeki ini untuk pamer, untuk memuaskan nafsu, untuk melaksanakan kesia sian dan kemaksiatan. Inilah yang membuat kita selalu menderita walaupun, punya rezeki melimpah ruah.Padahal kalau kita tahu rezeki dari Allah sekecil apapun kita syukuri, walaupun kita hanya memakan dengan garam, tetapi kita akan berujar � Ya Allah tiada tuhan selain Engkau yang menjamu dan menjamin hamba hamba MU. Demi Allah walaupun uang sedikit, tetapi penuh rasa syukur Allah akan menghujamkan rasa nikmat di hati kita dan pada saatnya Allah akan mendatangkan rejeki lain yang lebih berkah dan lebih nikmat. Jangan anggap rejeki itu yang membuat kita bahagia. Bahagia itu justru dari bersyukur terhadap rejeki yang ada. Sebanyak apapun yang kita miliki, orang yang tidak tahu syukur tidak akan pernah merasakan berkahnya rezeki yang ada. Saudaraku sekalian , marilah kita menjadi orang yang benar benar mensyukuri nikmat sekecil apapun. Kita di beri badan oleh Allah mengapa kita racuni badan ini dengan makanan makanan yang tidak berfaedah, dengan asap rokok asap rokok yang meracuni. Tubuh ini milik Allah, jangan salahkan siapapun kalau Allah menghujamkan berbagai penyakit kepada diri kita, karena kita kufur nikmat. Dosa kita adalah kufur nikmat, biang malapetaka itu kufur nikmat. Kita lebih sibuk memikirkan ingin sehat padahal. menjaga karunia Allah ini adalah bagian dari rasa syukur. Mudah dari Allah menyehatkan kita. Siapapun yang meracuni tubuhnya dengan hal hal yang tidak disukai Allah, dia kufur nikmat. Jangan salahkan siapapun kalau Allah memberikan penyakit yang tidak diinginkan. Saudara saudaraku sekalian. Mari kita lihat nikmat lainnnya yaitu keluarga. Banyak orang yang menangis tersedu sedu ingin memiliki anak karena sulit. Tapi berapa banyak orang tua yang tidak mensyukuri anak yang ada. Lebih sibuk dengan mensia- siakannya padahal anak adalah amanah. Adakalanya orang tua menyiapkan anak untuk menjadi pencinta dunia. Padahal anak yang mencintai dunia tidak bisa pernah berbakti kepada orang tua nya. Hanya anak yang mengenal Allah, hanya anak yang mengenal kebenaran yang tahu bagaimana memuliakan ibu bapak nya. Dunia ini akan mengeraskan hati, dunia ini hanya membuat kita lebih mudah berbuat dosa �hubbud dun yaa ro�su kulli khathii ah� Cinta dunia itu sumber dari segala kesalahan. Jangan salahkan siapapun kalau anak anak kita sering melukai hati kita, karena kita yang menyiapkan mereka. Bukan menjadi orang bersyukur. Semua kembali kepada kita. In ahsantum ahsantum li anfusikum wa in asa�tum falahaa. Kebaikan kembali kepada pelakunya, keburukankembali kepada pembuat nya. Saudaraku sekalian tidak hanya nikmat yang harus kita syukuri, tetapi kepahitan demi kepahitan juga harus kita syukuri. Namun bukan kepahitannya yang harus kita syukuri tetapi hikmah dibalik kepahitan. Kalau kita dihina orang kita berat, karena kita lebih sibuk dengan nafsu. Tetapi kalau kita mau bersyukur ternyata penghinaan orang kepada kita itu adalah pemberitahuan betapa Allah menutupi aib kita lebih banyak dari pada yang diketahui oleh orang yang menghina kita. Kalau kita dihina orang, itu adalah karunia Allah berarti Allah sedang menggugurkan dosa dosa kita, Kalau kita dihina orang kita punya kesempatan untuk bertobat. Bukankah banyak dosa diantara kita yang tidak tertebus kecuali dengan rasa yg pedih dihati. Andai kata kita bisa menyukuri hikmah di balik kepahitan, maka kepahitan akan dirobah oleh Allah menjadi sesuatu yang bermakna. Saudaraku sekalian. Sebenarnya jika kita mau merenung lebih dalam, lebih dalam, lebih dalam lagi maka orang itu hanya bahagia kalau dia tahu bersyukur, dan semua kesengsaraan dan kegelisahan, kepahitan kekurangan, bala, musibah termasuk yang bertubi-tubi negeri kita ini. Wa la in kafartum inna �azaabii lasyadiid Itu karena kita kufur terhadap nikmat yang ada. Hadirin hadirat sebagai penutup dari khutbah arafah ini. Ada nikmat yang sangat berharga yaitu nikmat kesempatan. Allah merahasiakan kapan kita akan meninggal dunia, agar kita selalu berhati hati menjaga sisa umur ini. Terutama haji yang sudah datang ke Arofah, tolong di camkan baik baik betapa berharga nya nikmat sisa umur ini. Kita tidak tahu kapan akan mati. Mudah-mudahan dengan sadar hari demi hari adalah umur yang tersisa kita bisa menebus dosa dosa kita. Jangan biarkan hari yang tersisa ini tersia sia. Demi Allah jangan risau dengan rizki yang belum ada tetapi takutlah hari hari ini tidak bisa mensyukuri rezeki yang ada. Jangan takut pada kehidupan yang belum ada tetapi takutlah hari ini tidak bisa kita syukuri. Syukurilah hari demi hari kita dengan penuh ketaatan kepada Allah, jikalau kita mendengar adzan syukurilah karena masih bisa mendengar adzan untuk bisa bersegera sholat. Jika kita memegang harta syukurilah harta yang ada dengan memperbanyak sedekah. Jika kita melihat orang yang dalam kesulitan maka syukurilah dengan kita berusaha menolongnya. Kalau kita punya pekerjaan syukurilah dengan bekerja jujur dimana kita ada syukurilah semuanya sekecil apapun, nikmat dari Allah patut disyukuri. Demi Allah pasti Allah akan melihat yang kita lakukan. Allah janji akan memberi lebih kepada orang orang yang tahu bersyukur. Semoga dengan ada ibadah haji ini. Kita termasuk orang orang yang diberikan nikmat oleh Allah bisa menyukuri nikmat yang ada. Karena ternyata semua kehidupan kita akan sangat tergantung dari sikap terhadap nikmat yang Allah berikan. La in syakartum la aziidannakum �� Allahumma sholli wa shallim wa baarik ala syaidina muhdammad wa alaa ahlihi wa ashabihi ajmain. Alhamdulillahhirobbil alaamiin Laa Haulaa walaa quwwata illa billahil aliyul adzim. Ya Allah ya Hayyu ya Qoyyum Allah Yaa Kariim, Allahummaj�alna Hajjan mabruro wa sa�yan masykuuro wa dzanban maghfuuro, wa tijaarotan lan tabuur. Ya Allah yang maha menatap, wahai yang maha mendengar, wahai yang berjanji di tanah arofah ini, tempat mustajabnya doa. Wahai yang berjanji memberi ampunan bagi orang yang bergelimang dosa. Wahai yang menjanjikan kemurahan bagi orang orang yang berharap pertolongan dan ampunan Ya Allah yaa Hayyu yaa Qoyyum jadikanlah saat ini menjadi saat Engkau ampuni untuk apapun dosa yang kami lakukan. Allahumma Inna Nasaluka taubatan nasuuha wa taubatan qobla mauut wa rahmatan indal mauut wa magfirotan ba�dal maut Allahumma hawwin alaynaa fii syakarotil maut, aamiin yaa Robbal �aalamiin. (Aa Gym, 9 Dzulhijjah 1431, Khutbah Wukuf Arafah, Saudi Arabia) /hsn

Merayakan Maulid Nabi

Memang Rasulullah SAW tidak pernah melakukan seremoni peringatan hari lahirnya. Kita belum pernah menjumpai suatu hadits/nash yang menerangkan bahwa pada setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal (sebagian ahli sejarah mengatakan 9 Rabiul Awwal), Rasulullah SAW mengadakan upacara peringatan hari kelahirannya. Bahkan ketika beliau sudah wafat, kita belum pernah mendapati para shahabat r.a. melakukannya. Tidak juga para tabi`in dan tabi`it tabi`in.

Menurut Imam As-Suyuthi, tercatat sebagai raja pertama yang memperingati hari kelahiran Rasulullah saw ini dengan perayaan yang meriah luar biasa adalah Raja Al-Mudhaffar Abu Sa`id Kukburi ibn Zainuddin Ali bin Baktakin (l. 549 H. - w.630 H.). Tidak kurang dari 300.000 dinar beliau keluarkan dengan ikhlas untuk bersedekah pada hari peringatan maulid ini. Intinya menghimpun semangat juang dengan membacakan syi’ir dan karya sastra yang menceritakan kisah kelahiran Rasulullah SAW.

Di antara karya yang paling terkenal adalah karya Syeikh Al-Barzanji yang menampilkan riwayat kelahiran Nabi SAW dalam bentuk natsar (prosa) dan nazham (puisi). Saking populernya, sehingga karya seni Barzanji ini hingga hari ini masih sering kita dengar dibacakan dalam seremoni peringatan maulid Nabi SAW.

Maka sejak itu ada tradisi memperingati hari kelahiran Nabi SAW di banyak negeri Islam. Inti acaranya sebenarnya lebih kepada pembacaan sajak dan syi`ir peristiwa kelahiran Rasulullah SAW untuk menghidupkan semangat juang dan persatuan umat Islam dalam menghadapi gempuran musuh. Lalu bentuk acaranya semakin berkembang dan bervariasi.

Di Indonesia, terutama di pesantren, para kyai dulunya hanya membacakan syi’ir dan sajak-sajak itu, tanpa diisi dengan ceramah. Namun kemudian ada muncul ide untuk memanfaatkan momentum tradisi maulid Nabi SAW yang sudah melekat di masyarakat ini sebagai media dakwah dan pengajaran Islam. Akhirnya ceramah maulid menjadi salah satu inti acara yang harus ada, demikian juga atraksi murid pesantren. Bahkan sebagian organisasi Islam telah mencoba memanfaatkan momentum itu tidak sebatas seremoni dan haflah belaka, tetapi juga untuk melakukan amal-amal kebajikan seperti bakti sosial, santunan kepada fakir miskin, pameran produk Islam, pentas seni dan kegiatan lain yang lebih menyentuh persoalan masyarakat.

Kembali kepada hukum merayakan maulid Nabi SAW, apakah termasuk bid`ah atau bukan?

Memang secara umum para ulama salaf menganggap perbuatan ini termasuk bid`ah. Karena tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah saw dan tidak pernah dicontohkan oleh para shahabat seperti perayaan tetapi termasuk bid’ah hasanah (sesuatu yang baik), Seperti Rasulullah SAW merayakan kelahiran dan penerimaan wahyunya dengan cara berpuasa setiap hari kelahirannya, yaitu setia hari Senin Nabi SAW berpuasa untuk mensyukuri kelahiran dan awal penerimaan wahyunya.

عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ” : فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ . رواه مسلم

“Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku.” (H.R. Muslim)

Kita dianjurkan untuk bergembira atas rahmat dan karunia Allah SWT kepada kita. Termasuk kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat kepada alam semesta. Allah SWT berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.’ ” (QS.Yunus:58).

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Hadits itu menerangkan bahwa pada setiap hari senin, Abu Lahab diringankan siksanya di Neraka dibandingkan dengan hari-hari lainnya. Hal itu dikarenakan bahwa saat Rasulullah saw lahir, dia sangat gembira menyambut kelahirannya sampai-sampai dia merasa perlu membebaskan (memerdekakan) budaknya yang bernama Tsuwaibatuh Al-Aslamiyah.

Jika Abu Lahab yang non-muslim dan Al-Qur’an jelas mencelanya, diringankan siksanya lantaran ungkapan kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW, maka bagaimana dengan orang yang beragama Islam yang gembira dengan kelahiran Rasulullah SAW?

HM Cholil Nafis MA

Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) PBNU

Ebook Islam dalam Kristologi

Kumpulan Ebook (Elektronik Book) ini adalah sebuah jawaban kritis dan ilmiah atas tudingan orang-orang yang benci terhadap islam. Jawaban didalam ebook ini sesuai dengan Al Qur'an dan Hadist dengan pembuktian ilmu pengetahuan mutakhir. berikut ini Daftar Ebook yang kami peroleh dengan format CHM sehingga lebih dibaca di semua komputer :
1. Zionisme Adalah gerakan Menaklukan Dunia
(Ebook Ini menjawab bahaya Zionisme Dunia, Sejarah dan Strategi zionisme yahudi)

02. Kritik Bibel.chm
(Ebook ini analisis dari filosof yahudi terhadap perjanjian lama atau dari terjemahan Risalah fil lahut was Siyasah)


03. Misionaris Zionisme.chm
(Ebook Ini membahas gerakan misionaris zionisme didunia dan As serta sejarah kelamnya)

04. Sejarah Injil.chm
(Ebook ini merupakan mengupas dengan jelas penyimpangan antara perjanjian lama dan perjanjian baru. Ada apa?)

05. Mustahil Kristen bisa_menjawab.chm
(Ebook ini merupakan tantangan seluruh umat kristen untuk menjawab puluhan pertanyaan dengan hadiah Mobil BMW ditiap pertanyaan) Keren abis...

06. Muhammad dan Kristus.chm
(Ebook ini menekankan keistimewaan perbandingan antara Muhammad dengan Kristus) sangat jelas hikmah dan manfaat dibalik semua itu

07. DEBAT KAIRO.CHM
(Ebook ini berisikan Debat Antara Islam dan Kristen di Kairo, Bantahan-bantahan tuduhan kristen dan pembuktian islam agama yang benar)

08. 40QuestionAnswerAboutIslam.chm
(Ebook ini berisi 40 pertanyaan dan jawaban tentang ISlam. Dengan ulama DR. Zakir Naik sebagai titik sentralnya yang sesuai dengan Ilmu pengetahauan)

09. Runtuhnya Teori Evolusi dalam 20 Pertanyaan.chm
(Ebook mengenai sebuah teori Evolusi hanya 20 pertanyaan menguji keabsahan teori tersebut)

10. Darwinisme Vs Quran.chm
(Ebook yang menarik antara Konsep Darwinisme dengan Kitab Suci Al Qur'an)

11. Yesus Kashmir.chm
(Ebook tentang penemuan yesus wafat di kasmir? atau hanya propaganda saja?)

12. Trinitas.chm
(Ebook Tentang ajaran trinitas oleh umat kristen dengan pertentangan Injil dan AlQuran)

12. Titik Temu islam Kristen.chm
(Ebook tentang Titik peertemuan antara islam dan kristen, yang sama2 dahulu agama yang diturunkan allah.)

13. Siapa juru selamat.chm
(Ebook mengupas tuntas siapa sebenarnya Juru selamat kita)

MetodeBibel.CHM
dialogislamkristen.chm
kebohongan.chm
islam dihujat.chm
armansyah.chm
david_benjamin_kaldeni..chm
al_islah_online.chm


Demikain ebook ini kami persembahakan agar umat islam semakin terbuka wawasan bahwa islam adalah agama satu-satunya diridhoi oleh Allah

Cermin Hati

Oleh: A. Mustofa Bisri

Kalau kita ingin melihat wajah kita sendiri, biasanya kita bersendiri dengan kaca ajaib yang lazim kita sebut cermin. Dari cermin itu kita bisa melihat dengan jelas apa saja yang ada di wajah kita; baik yang menyenangkan atau yang tidak, bahkan mungkin yang membuat kita malu.

Dengan cermin, kita mematut-matut diri. Barangkali karena itulah hampir tidak ada rumah yang tidak menyimpan cermin. Karena hampir semua orang ingin dirinya patut.

Tanpa bercermin kita tidak bisa melihat sendiri noda yang ada pada diri kita. Dan tanpa melihat sendiri noda itu, bagaimana kita tergerak menghilangkannya.

Di dalam Islam, ada dawuh,” Almu’minu miraatul mu’min”,” Orang mukmin adalah cermin mukmin yang lain”; “Inna ahadakum miraatu klhiihi”,” Sesungguhnya salah seorang di antara kamu adalah cermin saudaranya. Artinya masing-masing orang mukmin bisa –atau seharusnya-- menjadi cermin mukmin yang lain. Seorang mukmin dapat menunjukkan noda saudaranya, agar saudaranya itu bisa menghilangkannya.

Dalam pengertian yang lain, untuk mengetahui noda dan aib kita, kita bisa bercermin pada saudara kita. Umumnya kita hanya –dan biasanya lebih suka—melihat noda dan aib orang lain. Sering kali justru karena kesibukan kita melihat aib-aib orang lain, kita tidak sempat melihat aib-aib kita sendiri.

Di bulan suci, dimana kita bisa tenang bertafakkur memikirkan diri sendiri --dan inilah sesungguhnya yang penting—, kadang-kadang kita masih juga kesulitan untuk melihat kekurangan-kekurangan kita. Satu dan lain hal, karena kita enggan memikirkan kekurangan-kekurangan diri sendiri. Maka bercermin pada orang lain kiranya sangat perlu kita lakukan.

Seperti kita ketahui, melihat orang lain adalah lebih mudah dan jelas katimbang melihat diri sendiri. Marilah kita lihat orang lain, kita lihat aib-aib dan kekurangan-kekurangannya; lalu kita rasakan respon diri kita sendiri terhadap aib-aib dan kekurangan-kekurangan orang lain itu. Misalnya, kita melihat kawan kita yang sikapnya kasar dan tak berperasaan; atau kawan kita yang suka membanggakan dirinya dan merendahkan orang lain; atau kawan kita yang suka menang-menangan, ingin menang sendiri; atau kawan kita yang bersikap atau berperangai buruk lainnya. Kira-kira bagaimana tanggapan dalam diri kita terhadap sikap kawan-kawan kita yang seperti itu?

Kita mungkin merasa jengkel, muak, atau minimal tidak suka. Kemudian marilah kita andaikan kawan-kawan kita itu kita dan kita adalah mereka. Artinya kita yang mempunyai sikap dan perilaku tidak terpuji itu dan mereka adalah orang yang melihat. Apakah kira-kira mereka juga jengkel, muak, atau minimal tidak suka melihat sikap dan perilaku kita? Kalau jawabnya tidak, pastilah salah satu dari kita atau mereka yang tidak normal.

Normalnya, adalah sama. Sebagaimana kita tidak suka melihat perangai buruk orang lain, orang lain pun pasti tidak suka melihat perangai buruk kita. Demikian pula sebaliknya; apabila kita senang melihat perangai orang yang menyenangkan, orang pun pasti akan senang apabila melihat perangai kita menyenangkan.

Namun kadang-kadang kita seperti tidak mempunyai waktu untuk sekedar bercermin, melihat diri kita sendiri pada orang lain seperti itu. Hal ini mungkin disebabkan oleh ego kita yang keterlaluan dan menganggap bahwa yang penting hanya diri kita sendiri, hingga melihat orang lain, apalagi merasakan perasaannya, kita anggap tidak penting. Orang lain hanya kita anggap sebagai figuran dan kitalah bintang utama.

Ada sebuah hadis sahih yang sering orang khilaf mengartikannya. Hadis sahih itu berbunyi Laa yu’minu ahadukum hattaa yuhibba liakhiihi maa yuhibbu linafsihi. Banyak yang khilaf mengartikan hadis ini dengan: “Belum benar-benar beriman salah seorang di antara kamu sampai dia menyintai saudaranya sebagaimana menyintai dirinya.” Pemaknaan ini kelihatannya benar, tapi ada yang terlewatkan dalam mencermati redaksi hadis tersebut. Disana redaksinya yuhibba liakhiihi (menyintai untuk saudaranya), bukan yuhibba akhaahu (menyintai saudaranya), Jadi semestinya diartikan “Belum benar-benar beriman salah seorang di antara kamu sampai dia senang atau menyukai untuk saudaranya apa yang dia senang atau menyukai untuk dirinya sendiri”.

Artinya apabila kita senang atau suka mendapat kenikmatan, misalnya, maka kita harus –bila ingin menjadi sebenar-benar mukmin—juga senang atau suka bila saudara mendapat kenikmatan. Apabila kita senang diperlakukan dengan baik, kita pun harus senang bila saudara kita diperlakukan dengan baik. Apabila kita senang jika tidak diganggu, kita pun harus senang bila saudara kita tidak diganggu. Demikian seterusnya.

Bukanlah mukmin yang baik orang yang senang dihormati tapi tidak mau menghormati saudaranya dan tidak senang bila saudaranya dihormati. Bila pengertiannya dibalik. Bukanlah mukmin yang baik orang yang tidak suka dihina, tapi suka menghina saudaranya dan suka bila saudaranya dihina.

Demikianlah kita bisa memperpanjang misal bagi ajaran hadis yang mulia itu dengan melihat cermin. Saudara kita adalah cermin kita.

Sang Pemimpin

Zahir sedang berada di pasar Madinah ketika tiba-tiba seseorang memeluknya kuat-kuat dari belakang. Tentu saja Zahir terkejut dan berusaha melepaskan diri, katanya: "Lepaskan aku! Siapa ini?" Orang yang memeluknya tidak melepaskannya justru berteriak: "Siapa mau membeli budak saya ini?"

Begitu mendengar suaranya, Zahir pun sadar siapa orang yang mengejutkannya itu. Ia pun malah merapatkan punggungnya ke dada orang yang memeluknya, sebelum kemudian mencium tangannya.

Lalu katanya riang: "Lihatlah, ya Rasulullah, ternyata saya tidak laku dijual."

"Tidak, Zahir, di sisi Allah hargamu sangat tinggi;" sahut lelaki yang memeluk dan 'menawarkan' dirinya seolah budak itu
yang ternyata tidak lain adalah Rasulullah, Muhammad SAW.

Zahir Ibn Haram dari suku Asyja', adalah satu di antara sekian banyak orang dusun yang sering datang berkunjung ke Madinah, sowan menghadap Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Tentang Zahir ini, Rasulullah SAW pernah bersabda di hadapan sahabat-sahabatnya, "Zahir adalah orang-dusun kita dan kita adalah orang-orang-kota dia."
***
Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, Anda akan sulit membayangkannya bercanda di pasar dengan salah seorang rakyatnya seperti kisah yang saya tuturkan (berdasarkan beberapa kitab hadis dan kitab biografi para sahabat, Asad al-ghaabah- nya Ibn al-Atsier ) di atas. Tapi itulah pemimpin agung, Uswah hasanah kita Nabi Muhammad SAW.

Dari kisah di atas, Anda tentu bisa merasakan betapa bahagianya Zahir Ibn Haram. Seorang dusun, rakyat jelata, mendapat perlakuan yang begitu istimewa dari pemimpinnya. Lalu apakah kemudian Anda bisa mengukur kecintaan si rakyat itu kepada sang pemimpinnya? Bagaimana seandainya Anda seorang santri dan mendapat perlakuan demikian akrab dari kiai Anda? Atau Anda seorang anggota partai dan mendapat perlakuan demikian dari pimpinan partai Anda? Atau seandainya Anda rakyat biasa dan diperlakukan demikian oleh --tidak usah terlalu jauh: gubernur atau presiden-bupati Anda? Anda mungkin akan merasakan kebahagiaan yang tiada taranya; mungkin kebahagiaan bercampur bangga; dan pasti Anda akan semakin mencintai pemimpin Anda itu. Sekarang pengandainya dibalik: seandainya Anda kiai atau, pimpinan partai, atau bupati; apakah Anda 'sampai hati' bercanda dengan santri atau bawahan Anda seperti yang dilakukan oleh panutan agung Anda, Rasulullah SAW itu? Boleh jadi kesulitan utama yang dialami umumnya pemimpin, ialah mempertahankan kemanusiaanya dan pandangannya terhadap manusia yang lain. Biasanya, karena selalu dihormati sebagai pemimpin, orang pun menganggap ataukah dirinya tidak lagi sebagai manusia biasa, atau orang lain sebagai tidak begitu manusia.
***
Kharqaa', perempuan berkulit hitam itu entah dari mana asalnya. Orang hanya tahu bahwa ia seorang perempuan tua yang sehari-hari menyapu mesjid dan membuang sampah. Seperti galibnya tukang sapu, tak banyak orang yang memperhatikannya. Sampai suatu hari ketika Nabi Muhammad SAW tiba-tiba bertanya kepada para sahabatnya, "Aku kok sudah lama tidak melihat Kharqaa'; kemana gerangan perempuan itu?"

Seperti kaget beberapa sahabat menjawab: "Lho, Kharqaa' sudah sebulan yang lalu meninggal, ya Rasulullah." Boleh jadi para sahabat menganggap kematian Kharqaa' tidak begitu penting hingga perlu memberitahukannya ' kepada Rasulullah SAW. Tapi ternyata Rasulullah SAW dengan nada menyesali, bersabda: "Mengapa kalian tidak memberitahukannya kepadaku? Tunjukkan aku dimana dia dikuburkan?".

Orang-orang pun menunjukkan kuburnya dan sang pemimpin agung pun bersembahyang di atasnya, mendoakan perempuan tukang sapu itu.
***

Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, Anda pasti akan sulit membayangkan bagaimana pemimpin seagung beliau, masih memiliki perhatian yang begitu besar terhadap tukang sapu, seperti kisah nyata yang saya ceritakan (berdasarkan beberapa hadis sahih) di atas.

Tapi itulah pemimpin agung, Uswah hasanah kita Nabi Muhammad SAW. Urusan-urusan besar tidak mampu membuatnya kehilangan perhatian terhadap rakyatnya, yang paling jembel sekalipun.
***
Anas Ibn Malik yang sejak kecil mengabdikan diri sebagai pelayan Rasulullah SAW bercerita: "Lebih Sembilan tahun aku menjadi pelayan Rasulullah SAW dan selama itu, bila aku melakukan sesuatu, tidak pernah beliau bersabda, 'Mengapa kau lakukan itu?' Tidak pernah beliau mencelaku."

"Pernah, ketika aku masih kanak-kanak, diutus Rasulullah SAW untuk sesuatu urusan;" cerita Anas lagi, "Meski dalam hati aku berniat pergi melaksanakan perintah beliau, tapi aku berkata, 'Aku tidak akan pergi.' Aku keluar rumah hingga melewati anak-anak yang sedang bermain di pasar. Tiba-tiba Rasulullah SAW memegang tengkukku dari belakang dan bersabda sambil tertawa, 'Hai Anas kecil, kau akan pergi melaksanakan perintahku?' Aku pun buru-buru menjawab, 'Ya, ya, ya Rasulullah, saya pergi.'"

Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, dapatkah Anda membayangkan kasih sayangnya yang begitu besar terhadap abdi kecilnya? Tapi pasti Anda dapat dengan mudah membayangkan betapa besar kecintaan dan hormat si abdi kepada 'majikan'nya itu.

Waba'du; apakah saya sudah cukup bercerita tentang Nabi Muhammad SAW, sang pemimpin teladan yang luar biasa itu? Semoga Allah melimpahkan rahmat dan salamNya kepada beliau, kepada keluarga, para sahabat, dan kita semua umat beliau ini. Amin.

Waktu dan tempat menghafal ilmu

Seseorang hendaknya membagi waktu siang dan malamnya.
Semestinya dia memanfaatkan sisa umurnya,
karena sisa umur seseorang tidak ternilai harganya.
Waktu terbaik untuk menghafal adalah waktu sahur.
Waktu terbaik untuk membahas/meneliti (suatu permasalahan) adalah di awal pagi.
Waktu terbaik untuk menulis adalah di tengah siang.
Waktu terbaik untuk menelaah dan mengulang (pelajaran) adalah malam hari.
Al-Khathib rahimahullahu berkata: “Waktu terbaik untuk menghafal adalah waktu sahur, setelah itu pertengahan siang, kemudian waktu pagi.” Beliau berkata lagi: “Menghafal di malam hari lebih bermanfaat daripada di siang hari, dan menghafal ketika lapar lebih bermanfaat daripada menghafal dalam keadaan kenyang.” Beliau juga berkata: “Tempat terbaik untuk menghafal adalah di dalam kamar, dan setiap tempat yang jauh dari hal-hal yang melalaikan.” Beliau menyatakan pula: “Tidaklah terpuji untuk menghafal di hadapan tetumbuhan, yang menghijau, atau di sungai, atau di tengah jalan, di tempat yang gaduh, karena hal-hal itu umumnya akan menghalangi kosongnya hati.”
(Diambil dari Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim fi Adabil ‘Alim wal Muta’allim, karya Al-Qadhi Ibrahim bin Abil Fadhl ibnu Jamaah Al-Kinani rahimahullahu, hal. 72-73, cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah –dari asy syariah, dari Ikatan Pelajar Muslim Boyolali)

Sabtu, 18 Desember 2010

Sikap

Semakin lama saya hidup, semakin saya sadar
Akan pengaruh sikap dalam kehidupan
Sikap lebih penting daripada ilmu,
daripada uang, daripada kesempatan,
daripada kegagalan, daripada keberhasilan,
daripada apapun yang mungkin dikatakan
atau dilakukan seseorang.
Sikap lebih penting
daripada penampilan, karunia, atau keahlian.
Hal yang paling menakjubkan adalah
Kita memiliki pilihan untuk menghasilkan
sikap yang kita miliki pada hari itu.
Kita tidak dapat mengubah masa lalu
Kita tidak dapat mengubah tingkah laku orang
Kita tidak dapat mengubah apa yang pasti terjadi
Satu hal yang dapat kita ubah
adalah satu hal yang dapat kita kontrol,
dan itu adalah sikap kita.
Saya semakin yakin bahwa hidup adalah
10 persen dari apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita,
dan 90 persen adalah bagaimana sikap kita menghadapinya.
Akhirnya: Seluruh pilihan terletak di tangan Anda, tidak ada JIKA atau TETAPI. Andalah pengemudinya. Andalah yang menentukan JALAN HIDUP ANDA…!
Ditulis kembali oleh: Kata-Kata Mutiara

waktu kita terbatas

Seorang teman berkata: “Waktu memang tak terbatas – tapi waktu kita terbatas
Terkadang kita terlalu disibukkan oleh hal-hal yang begitu remeh sehingga kita terlupa untuk segera menyelesaikan tugas besar yang sebetulnya telah menunggu kita untuk diselesaikan. Coba Anda audit lagi apa yang telah Anda lakukan dalam 1 (satu) bulan ini, mungkin ada beberapa hal yang semestinya bisa diselesaikan dengan cepat di awal atau pertengahan bulan.
Kebanyakan manusia memang demikian adanya sehingga banyak hal yang terlewat dari kita semua.
Saya diberikan tips yang sangat bagus oleh sebuah buku … dan ini sudah terbukti. Sangat sederhana tips ini bahkan terkadang Anda meremehkan loh. Begini: untuk menyelesaikan suatu tugas, Anda sebelum berangkat tidur, coba tuliskan 5 hal yang akan Anda selesaikan esok hari. Lalu Anda cukup berangkat tidur setelah menuliskan 5 hal itu.
Dan buktikan esok paginya. Okay, jangan berkomentar dulu – lakukan dan berikan komentar disini setelah Anda mendapatkan buktinya.

Basmalah


Basmalah (bahasa Arabبسملة) adalah bahasa Arab yang digunakan untuk menyebutkan kalimat Islam bismi-llāhi ar-raḥmāni ar-raḥīmi. Kalimat ini tertera dalam setiap awalan Surat di dalam Al-Qur'an, kecuali Surat At-Taubah. Juga diucapkan setiap kali seorang Muslim melakukan salat, juga memulai kegiatan harian lainnya, dan biasanya digunakan sebagai pembuka kalimat (Mukadimah) dalam konstitusi atau piagam di negara-negara Islam. Kalimat Basmallah juga pernah ditulis pada zaman Nabi Sulaiman untuk ratu Bilqis sesuai dengan informasi dalam Al Qur'an yaitu di surat 27 ayat 30.
بسم الله الرحمن الرحيم
bismi-llāhi ar-raḥmāni ar-raḥīmi
"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang"
Bismillah (بسم الله) berasal dari bahasa arab yang berarti "Dengan menyebut nama Allah )". Bacaan ini disebut Tasmiyah dan bagi orangIslam sangat dianjurkan membacanya untuk memulai setiap kegiatannya. Sehingga apa yang dikerjakan diniatkan atas nama Allahdan semoga mendapatkan restu atas pekerjaan tersebut.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمDengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.